Thursday, September 3, 2009

Painting Exhibitions


"Namaku Tanah Tho"

4th September 2009

Visi Ruang Baru

Bagi seorang perupa, entah itu Anda, saya atau pun yang lain, sepertinya memiliki pendapat yang sama—paling tidak mirip—dalam memandang betapa sebuah ruang seni; tempat di mana capaian artistik dapat disosialisasikan, adalah hal penting bagi kelangsungan hidup kesenian dan kesenimanan. Harapan terhadap sebuah ruang bervisi baik, tak lepas dari syarat makro tatanan dunia seni rupa kini yang lebih berdasar pada jalinan proses kerjasama berkelanjutan antara perupa, galeri (art space), kurator, kolektor, dan lain-lain. Untuk itulah kehadiran Galeri Tanah Tho yang dirintis pelukis Dewa Gde Ardhana bersama putranya Dewa Gde Putra sangatlah disambut antusias kalangan perupa. Tanah Tho, yang menunjuk pada pengertian ihwal sebuah tempat berkilau cahaya, dapat dipahami sebagai landasan untuk mengorbitkan visi baru dari sebuah ruang seni baru.

Mengingat ke depannya ruang bernama Galeri Seni (dengan ‘G’ huruf besar, maksudnya menunjuk pada peran yang visioner) akan berhadapan dengan pergulatan dunia seni rupa mutakhir, di mana Galeri dituntut tidak saja berfungsi sebagai ruang pajang dan dagang karya seni semata, melainkan juga ke arah edukasi pasar wacana. Ia harus senantiasa terjaga untuk memiliki denyut dan kewibawaan yang hidup; tempat di mana ruang privat dan sosial seni rupa beradu, berdialog dan membangun tatanan-tatanan diskursus barunya. Hingga memang ekspektasinya menjadi begitu luas dan bertingkat-tingkat.

Dengan posisi Galeri Seni seperti ini pula, ditulis Adam Lindemann dalam bukunya yang populer Collecting Contemporary, tetap menempatkan Galeri Seni (tentu saja yang berkualitas bagus) sebagai pasar primer yang harus dituju oleh pembeli karya seni (kolektor). Mengapa demikian? Menurutnya, pada Galeri Seni akan dijumpai karya-karya seni yang baru, dan yang terpenting harganya tetap bersaing (2006: 13). Pendek kata, pendirian Galeri Seni di hari ini tetaplah menjadi sesuatu yang penting, sekaligus bermasa depan.

Di luar, sebagaimana kita tahu semua, entah itu di Ubud sendiri, ataupun di berbagai kota, ruang seni rupa telah sangat banyak tumbuh. Hal ini tentu saja sangat positif. Tetapi tumbuh untuk menciptakan ruang-ruang baru; tempat berpusarnya medan sosial seni rupa, secara otomatis menunjuk pada presentasi kualitas pribadi pemilik ruang tersebut, dan juga para perupa pendukungnya. Soal kualitas diri, menjadi penting untuk menimbang kembali nilai filosofis yang terkandung dalam konsep karang awake tandurin oleh rohaniawan tersohor Bali Ida Pedanda Made Sidemen, yang artinya, selalu menyemai daya hidup tak berkesudahan bagi sang diri. Karena ketika kualitas diri kehilangan daya hidup, ruang yang tercipta pun menjadi sia-sia. Di sini betapa inherennya hubungan antara ruang yang dibangun, dengan kesadaran untuk selalu meningkatkan kualitas diri seluruh komponen suprastruktur seni rupa.

Visi ruang baru adalah jawaban untuk menengarai otomatisasi peran dan fungsi yang dituntut oleh pusaran sosial seni rupa terhadap ruang-ruang ciptaan pribadi. Visi yang dipahami sebagai demarkasi di mana kejelasan tindak dapat diukur, sehingga publik dalam menempatkan ekspektasinya lebih pada standar-standar yang terjaga. Tidak mengawang sebagai ruang impian yang tiada pernah dapat tersentuh. Barangkali banyak pelajaran yang dapat dijumput dari deretan ruang-ruang ciptaan baru, yang diawal berdirinya begitu nampak memesona, tapi akhirnya hilang tanpa kejelasan.

Menjadi sangat penting memang, Galeri Tanah Tho hari ini dan selanjutnya untuk senantiasa berjalan dan bertumbuh dalam irama gerak cipta seni rupa yang terus melesat maju. Karena akan menjadi sangat beresiko begitu sensitivitas menghilang, tidak menutup kemungkinan Galeri Seni ini akan menjadi tertatih menghadapi persaingan. Maka sekiranya tetap terjaga dalam falsafah untuk senantiasa menanami diri bersama seluruh komponen seni rupa dengan berlimpah pengetahuan dan wawasan baru. Saya berkeyakinan Galeri Tanah Tho akan menuju ke arah visi baru itu, terlebih di dalamnya begitu berlimpah sumberdaya dan kegairahan muda untuk maju bersama.

Sinergi Sebelas Perupa

Sebagai awal, Galeri Tanah Tho mulai mengepakkan sayap dengan menghadirkan sebelas perupa, yakni Wayan Sudarna Putra, Ketut Lekung Sugantika, Ni Nyoman Sani, Wayan Wirawan, Made Arya Palguna, Ida Bagus Putu Purwa, Komang Gde Teja Mulya, Gede Suanda, Wayan Paramartha, Kan Kulak, hingga Kriyono. Banyak hal yang dapat diselidik dari kehadiran perupa-perupa kontemporer Bali ini, satu diantaranya terkait dengan antusiasme kerja kreatif sekaligus solidaritas untuk menyuburkan seni rupa Bali.

Pernyataan ini beranjak dari kenyataan empiris bahwa dalam beberapa tahun terakhir intensitas even pameran seni rupa begitu ramai. Para perupa kontemporer—beberapa di antaranya adalah sebelas perupa di atas—menjadi aktor dan aktris yang diburu untuk serta dalam even-even tersebut. Dapat dibayangkan betapa sibuknya jam kreatif mereka. Beruntung, kehadiran Galeri Tanah Tho tetap mereka sambut dengan gempita kerja kreatif. Satu alasan yang sekiranya lekat dengan itikad ini, adalah kehendak untuk berkontribusi bagi iklim kreatif di Bali. Kegairahan ini juga memantik harapan akan tumbuhnya sinergi mutualistik dalam art world seni rupa Bali ke depan.

Tak ada yang bisa menolak memang, bahwa keberlangsungan siklus cipta-mencipta, berikut pusaran diskursus wacana yang dikehendaki, dan juga pasar jual-beli hanya dapat berlangsung dalam kondisi-kondisi kesepahaman yang sebangun antar semua komponen suprastruktur. Sirnah, atau mulai meredupnya kesepahaman bersama tak terpungkiri lagi akan menjadi tanda kematian praktik cipta-mencipta, pula mulai melenyapnya kegairahan pemikiran, dan hambarnya suasana jual-beli. Inilah konsep yang ditengarai oleh sosiolog seni Howard S. Becker sebagai Art World; tatanan suprastruktur penentu hidup-matinya seni (seni rupa). Seni rupa memang tak lagi entitas eksotik yang berdiam di kolong kehidupan eksentrik para penyamun. Melainkan telah menjadi bagian gaya hidup urban metropolitan. Eksistensinya dirayakan, dipuja, dikritik, sekaligus dievaluasi secara terus menerus. Sudah pasti siapa pun yang lambat memahami kondisi-kondisi seperti ini hanya akan terdampar dalam nostalgia berkepanjangan.

Berpaling ke soal kerja kreatif sebelas perupa yang tampil ini, perhatian kita terpencar, tidak saja oleh gejala visual karya mereka yang bervariasi, juga oleh tutur konsep yang dilontarkan pun sangat plural. Bingkai paling dasar yang bisa dirajut hanyalah tentang figurasi dan skill kesenirupaan. Figurasi menjadi tema sekaligus ruang studi yang menonjol, terlihat pada karya-karya Purwa, Suanda, Sani, Wirawan, Paramartha dan juga pada pelukis senior Kriyono. Sementara Sudarna Putra, Teja Mulya, Lekung Sugantika, dan Palguna lebih ke eksplorasi tubuh dan objek dalam payung narasi tertentu. Sementara Kan Kulak menjelajahi dunia landscape.

Kegelisahan terhadap tubuh memang tak pernah lekang dieksplorasi perupa kontemporer kita. Tubuh dalam berlapis tafsir wacana, juga barangkali yang menyentuh ke demensi ideologis, terbukti telah memanjakan perhatian kita sejak lama. Persoalan tubuh—dengan tanpa meniadakan jiwa di dalamnya—memang telah menyemarakkan idiom perupaan dan wacana seni rupa kontemporer. Hal ini pula yang hendak dibagi kepada publik seni rupa Bali dari even perdana Galeri Tanah Tho ini. Selamat menikmati,


Tuesday, August 11, 2009

1st Sanggar Telematika Anniversary @ WaterbomBali

9 Agustus 2009 Sanggar Telematika Ubud Kelod merayakan hari jadinya yang ke-1 di Waterbom, Kuta. diikuti oleh 5 Pengurus Sanggar dan 5 Pemenang Juara Telematika.
Keriangan sudah muncul ketika akan berangkat menuju Kuta. Sanggar Telematika Ubud Kelod memilih waterbom karena hampir dari semua peserta belum pernah mengunjungi waterbom yang padahal masih berada di areal Kuta. Untuk itu pengurus sanggar mengajak Pemenang Sanggar serta Pengurus untuk sekedar berlibur di waterbom, Kuta-Bali.
Di umur Sanggar yang masih muda ini tentu masih banyak kekurangan untuk itu kami tetap mohon saran dari masyarakat dan anggota sanggar untuk meningkatkan kualitas pendidikan Internet di kalangan Banjar Ubud Kelod khususnya serta warga Ubud pada umumnya. Serta kami ucapkan terima kasih kepada seluruh Anggota Sanggar Telematika Ubud Kelod Batch 1. Semoga apa yang kalian dapatkan di Sanggar Telematika Ubud Kelod dapat bermanfaat.


Surya & Suarmika "Moko" di Super Bowl | Anik, Bawa & Arby sebelum meluncur d Terowongan!!



Situasi di "Bomerang" | Wira & Yudhi ketika meluncur.




"Race Track"


"Kasian Pondasi nya!!"

Tuesday, August 4, 2009

1st Anniversarry Sanggar Telematika Ubud Kelod

Go.......... !!! outing to
Waterbom Bali & having fun...there!!
9 Agustus 2009 at 10.00 am


Invited Only Invited Only Invited Only Invited Only Invited Only Invited Only Invited Only Invited Only Invited Only Invited Only Invited Only Invited Only Invited Only

Thursday, July 30, 2009

Hari Raya Saraswati


Hari Raya Saraswati yaitu hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati, jatuh pada tiap-tiap hari Saniscara Umanis wuku Watugunung. Pada hari itu kita umat Hindu merayakan hari yang penting itu. Terutama para pamong dan siswa-siswa khususnya, serta pengabdi-pengabdi ilmu pengetahuan pada umumnya.

Dalam legenda digambarkan bahwa Saraswati adalah Dewi/ lstri Brahma. Saraswati adalah Dewi pelindung/ pelimpah pengetahuan, kesadaran (widya), dan sastra. Berkat anugerah dewi Saraswati, kita menjadi manusia yang beradab dan berkebudayaan.

Dewi Saraswati digambarkan sebagai seorang wanita cantik bertangan empat, biasanya tangan- tangan tersebut memegang Genitri (tasbih) dan Kropak (lontar). Yang lain memegang Wina (alat musik / rebab) dan sekuntum bunga teratai. Di dekatnya biasanya terdapat burung merak dan undan (swan), yaitu burung besar serupa angsa (goose), tetapi dapat terbang tinggi .

Upacara pada hari Saraswati, pustaka-pustaka, lontar-lontar, buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaran-ajaran agama, kesusilaan dan sebagainya, dibersihkan, dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat, di pura, di pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai

Widhi widhana (bebanten = sesajen) terdiri dari peras daksina, bebanten dan sesayut Saraswati, rayunan putih kuning serta canang-canang, pasepan, tepung tawar, bunga, sesangku (samba = gelas), air suci bersih dan bija (beras) kuning.

Pemujaan / permohonan Tirtha Saraswati dilakukan mempergunakan bahan-bahan: air, bija, menyan astanggi dan bunga.

Setelah Saraswati puja selesai, biasanya dilakukan mesarnbang semadhi, yaitu semadhi ditempat yang suci di malam hari atau melakukan pembacaan lontar-lontar semalam suntuk dengan tujuan menernukan pencerahan Ida Hyang Saraswati

Puja astawa yang disiapkan ialah : Sesayut yoga sidhi beralas taledan dan alasnya daun sokasi berupa nasi putih daging guling, itik, raka-raka sampian kernbang payasan. Sesayut ini dihaturkan di atas tempat tidur, dipersembahkan ke hadapan Ida Sang Hyang Aji Saraswati.

Keesokan harinya dilaksanakan Banyu Pinaruh, yakni asuci laksana dipagi buta berkeramas dengan air kumkuman. Ke hadapan Hyang Saraswati dihaturkan ajuman kuning dan tamba inum. Tamba inum ini terdiri dari air cendana, beras putih dan bawang lalu diminum, sesudahnya bersantap nasi kuning garam, telur, disertai dengan puja mantram:

* Om, Ang Çarira sampurna ya namah swaha.

Semua ini mengandung maksud, mengambil air yang berkhasiat pengetahuan.

All right reserved by Sanggar Telematika Ubud Kelod Design & Maintenance by Dewa Arby